Borong Medali Emas Di Tokyo Jepang

PONOROGO – SD Muhammadiyah 1 Ponorogo kali ini patut berbangga, bagaimana tidak tiga siswanya berhasil menyabet juara dalam ajang robotika. Adalah Raynor Favian Jiwani (11), Dhuha Alif Ramadani (12) dan Caisar Wahyu Aji (12) mendapatkan tiga medali emas, dua medali perak dan satu medali perunggu.

Ketiganya berhasil menyisihkan 35 peserta dari berbagai negara seperti dari Malaysia, Turki dan Jepang. Persiapan dilakukan selama tiga bulan terakhir, mulai dari latihan dan materi yang lainnya.

Dhuha Alif R, Caesar Wahyu Aji dan Raynor Vavian Jiwani saat memamerkan aksi dalam menjalankan robot.

Guru pembimbing robotika, Nurkolis mengatakan, sebelum mengikuti lomba robotik tingkat internasional Internasional Islamic Robotic Olimpiade (IISRO) di Tokyo, Jepang 2017, SD Muhammadiyah 1 Ponorogo juga pernah mengikuti lomba robot di Malaysia International pada 2012 lalu.

“Kategori yang bisa diikuti antara lain RC Robot Soccer, RC Robot Sumo, Mase Zolving, Robot Gathering, dan Robot Teater. Kami ikut empat kategori dan juara semua,” .

Nurkolis merinci lomba yang diikuti oleh anak didiknya, untuk beregu lomba RC Robot Sumo memperoleh gold medal dengan tim Dhuha Alif R, Caesar Wahyu Aji dan Raynor Vavian Jiwani. Kemudian beregu lomba RC Robot Soccer meraih gold medal dengan tim Dhuha Alif R, Caesar Wahyu Aji, dan Raynor Vavian Jiwani.

Sedangkan individu ada Lomba Maze Zolving Robot meraih Silver individu medal ke 1 oleh Chaesar Wahyu Aji. Lanjut Dhuha Alif Ramadhani meraih Silver medal ke 2, dan Bronze medal ke 1 oleh Raynor Vavian Jiwani.

Selanjutnya ada pula, Lomba Gathering Robot Individu meraih Gold Medal oleh Raynor Vavian Jiwani, kemudian Silver medal ke 2 oleh Dhuha Alif Ramadhani dan silver Medal ke- 1 Caesar Wahyu Aji.

Meski memenangkan lomba tersebut, tim asal Ponorogo ini juga menemui beberapa kendala mulai dari robot ditahan bea cukai sebab dikira beli dari Jepang, saat lomba maze solving robot sempat mengalami error yang akhirnya hanya dapat juara 3.

Nurkolis menambahkan, saingan terberat berasal dari Malaysia dan Jepang. Indonesia selain mengirimkan Ponorogo juga mengirimkan tim asal Bandung, Surabaya, Sidoarjo, Denpasar dan Mojokerto.

Namun dengan adanya juara ini, diharapkan generasi penerus bisa memajukan negara melalui karya salah satunya robot. “Kami ingin mengembangkan dunia teknologi biar tidak ketinggalan dengan negara maju lainnya,” pungkasnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: